Jumat, 08 Mei 2009

SUAMI SIAGA

A. Definisi
Suami siaga :
Ø Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda bahaya kehamilan.
Ø Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika diperlukan.
Ø Jaga, suami hendaknya mendampingi istri selama proses dan selesai persalinan.
Suami Siaga
Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda-tanda komplikasi kehamilan. Jika peran SIAGA ini dijalankan, diharapkan keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak terjadi. Keterlambatan yang dimaksud mencakup terlambat mengetahui kelainan kehamilan dan persalinan, terlambat memutuskan untuk segera ke fasilitas pelayanan kesehatan, terlambat menerima perawatan yang tepat.
SIAGA posisi yang berkaitan dengan prilaku positif
Siap berarti harus siap/ disiapkan menemani istri
Antar berarti harus diangkut/mendapatkan naik
Jaga menterjemahkan untuk menjaga (selalu oleh istrimu selama dan setelah penyampaian)
SIAGA sendiri di kata berarti ALERT
JOHNS HOPKINS Universitas
Pusat komunikasi program

B. Penyebab Kematian Ibu Hamil
Keterlambatan sering kali berkontribusi terhadap kematian ibu ketika terjadi komplikasi kehamilan. Tiga jenis keterlambatan yang berisiko terhadap kesehatan ibu, yaitu terlambat untuk mencari pertolongan, terlambat mendapatkan pertolongan, terlambat mendapatkan pelayanan pada fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan yang memadai pada fasilitas kesehatan. Suami dan anggota keluarga lainnya memegang peranan yang penting dalam mendapatkan pelayanan sesegera mungkin.
Suami biasanya menjadi pemegang keputusan ketika kondisi istri dalam keadaan membutuhkan pertolongan kesehatan segera. Suami juga yang memutuskan transportasi apa yang digunakan untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan. Suami dapat menghindari keterlambatan tersebut dengan cara mengenali gejala-gejala persalinan imminen dan persalinan dengan komplikasi.
Kebanyakan kematian ibu yang terjadi antara tiga hari setelah persalinan, disebabkan karena adanya infeksi atau perdarahan. Hasil penelitian terbaru menemukan kematian ibu dapat dicegah bila suami dapat mengenal komplikasi-komplikasi potensial setelah persalinan dan selalu siaga untuk mencari pertolongan jika hal tersebut terjadi. Suami juga berperan agar istrinya mendapatkan makanan yang bergizi. Pada masa menyusui, seorang ibu membutuhkan vitamin A tambahan untuk menjaga agar vitamin-vitamin yang diperlukan dapat diterima dengan baik oleh bayinya. Selama periode pasca persalinan, suami dapat membantu pekerjaan rumah tangga yang berat seperti mengumpulkan kayu dan air serta menjaga anak-anak. Mereka juga dapat mendorong istri untuk memberi ASI agar dapat menolong kontraksi uterus. Pada akhirnya, suami harus mulai memikirkan metode kontrasepsi, baik berupa metode sementara untuk memberikan jarak terhadap kelahiran yang berikutnya atau bila mungkin vasektomi jika tidak menginginkan anak lagi.

C. Peran dan Keterlibatan Suami Dalam Kehamilan
Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan jaga produksi ASI.
Keterlibatan suami sejak awal kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok ”manusia mungil” didalam perutnya. Bahkan, keikutsertaan suami secara aktif dalam masa kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul ”What Your Parthner Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan istri dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan suami dalam masa-masa kehamilan.
Partisipasi suami yang dapat dilakukan antara lain meliputi :1. Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan istri yang sedang hamil.a. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri.b. Mengajak dan mengantar istri untuk memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan terdekat minimal 4 kali selama kehamilan.c. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anamia gizi dan memperoleh istirahat yang cukup.d. Mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan seperti darah tinggi, kaki bengkak, perdarahan, konsultasi dalam melahirkan, keracunan dalam kehamilan, infeksi dan sebagainya.e. Menyiapkan biaya melahirkan dan biaya transportasi.f. Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap sedini mungkin bila terjadi hal-hal yang menyangkut kesehatan kehamilan dan kesehatan janin misal perdarahan dan lain-lain.g. Menentukan tempat persalinan (fasilitas kesehatan) sesuai dengan kemampuan dan kondisi daerah masing-masing.
Trimester pertama: masa penuh gejolak emosi
Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada tubuh isti, yang paling menonjol adalah perubahan emosinya. Apa sebabnya? Kadar hormon estrogen dan progesteron didalam tubuhnya berubah. Tak mengherankan bila moodnya berubah-ubah terus. Kalau sudah begini, siapa lagi, selain suaminya. Suamilah yang paling tepat untuk membantu melalui masa-masa ini.
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester pertama :
Ø Sering mual-mual dan muntah, terutama pada pagi hari , karena mengalami morning sicness
Ø Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk
Ø Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang ”aneh” atau biasa disebut ngidam
Ø Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak menangis tersedu-sedu, merasa tertekan dan sedih , tanpa sebab yang jelas atau karena masalah sepele.
Yang dapat suami lakukan :
Ø Bawakan krekers dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu istri bangun dan morning sickness mendera, keluhan yang dirasakannya langsung hilang., berkat perhatian dan kasih sayang yang suami berikan.
Ø Buatlah istri merasa nyaman, sehingga dapat beristirahat dan cukup tidur. Misalnya, memutar lagu-lagu yang lembut.
Ø Bersiaplah menghadapi ”ujian” untuk mengukur seberapa besar cinta suami kepada istri. Jangan kaget bila istri menginginkan sesuatu yang ”aneh” di tengah malam. Karena istri sedang ngidam. Bila mampu, tak ada salahnya memenuhi permintaannya. siapa tau suami ”lulus ujian” dengan nilai cemerlang nantinya.
Ø Tunjukan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan. Sapaan ekspresif terhadap si kecil, misalnya ”hallo, lagi ngapain di situ?” atau seruan ”Woa...” sudah merupakan dukungan mental yang menyenangkan hati. Juga, ungkapkan perasaan cinta Anda padanya karena pada saat-saat seperti ini istri membutuhkan perhatian dan kasih sayang suami lebih dari biasanya.

Trimester kedua: masa-masa bahagia
Inilah saatnya istri merasakan nikmatnya masa-masa kehamilan. Makanya, suami tidak sebegitu tersiksanya ketimbang trimester lalu. Dan, mulai ikut merasakan gerakan janin mau tidak mau akan ”menyentil” suami. Sekarang ini suami baru bisa ”benar-benar” merasakan peran baru sebagai calon ayah.
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester kedua :
Emosi cenderung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang. Si kecil mulai sudah mulai “beraksi”.- Merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat melakukan latihan (olahraga ringan sesuai anjuran dokter) serta beraktivitas.– Cukup nyaman dengan keadaannya, sehingga mulai timbul keingginan untuk menikmati hubungan seks.
Yang dapat suami lakukan :
Tetap menunjukkan kalau Anda mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya, sebab ini wajar dan alami terjadi pada ibu hamil.- Dampingi dan antarlah selalu pasangan setiap kali berkunjung ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.- Dampingi dan berpatisipasilah secara aktif di kelas senam hamil (senam Lamaze) bersamanya. Ajaklah dia untuk kembali menikmati hubungan seks.

Trimester ketiga: takut dan cemas menghadapi hari-H
Masa ini merupakan masa-masa penantian yang “melelahkan”. “Perjalanan” menuju persalinan tinggal hitungan hari saja. Itu sebabnya, Anda akan lebih banyak berperan sebagai a shoulder to cry on.
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester ketiga :
Ø Semakin dekat dengan hari-H, biasanya dia merasa semakin takut dan cemas.
Ø Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisiknya.
Ø Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu, dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada punggung dan panggul, karena bayi sudah semakin besar dan sudah mulai menyiapkan diri untuk lahir.
Ø Mengeluh sulit tidur karena perutnya yang semakin membesar itu akan membuatnya tidak nyaman ketika berbaring.
Yang dapat suami lakukan :
Ø Bantu pasangan untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan. Misalnya, dengan mengalihkan perhatiannya dengan cara mengajaknya berbelanja keperluan si kecil.
Ø Pujilah kalau dia tetap cantik dan menarik, berbagai perubahan fisik tidak sedikitpun mengurangi kadar cinta Anda padanya.
Ø Bantulah meringankan berbagai keluhan. Misalnya, dengan memijat pegal-pegal di belakang tubuhnya.
Ø Bersiaplah untuk membantu dan menemaninya saat dia sulit tidur

D. Peran Suami Dalam Mencegah Atau Mengobati Komplikasi Kehamilan
Suami memainkan banyak peran kunci selama kehamilan dan persalinan istri serta setelah bayi lahir. Keputusan dan tindakan mereka berpengaruh terhadap kesakitan dan kesehatan, kehidupan dan kematian ibu dan bayinya.
Langkah awal yang dapat dilakukan oleh laki-laki dalam mempromosikan keselamatan ibu adalah merencanakan keluarganya.
· Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling sedikit 2 tahun, baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan membawa resiko kesehatan yang potensial untuk ibu, walaupun ibu tersebut terlihat sehat dan berisiko rendah kehamilan yang tidak direncanakan sering kali menjadi berisiko karena akan membawa mereka untuk aborsi. Komplikasi aborsi yang tidak aman menyebabkan 50.000 hingga 100.000 kematian setiap tahun.

E. Dukungan Suami Dalam Kehamilan
Agar istri bisa menjalani kehamilan yang sehat dan nyaman,dukungan suami mutlak diperlukan. Saat hamil, istri akan mengalami perubahan, Secara fisik ia akan menjadi lebih gemuk. Fisiologisnya juga mengalami berbagai perubahan yang mempengaruhi pola perilaku dan emosinya. Karena itu,selama istri hamil, suami harus selau siaga yaitu siaga untuk bersabar,memahami,memperhatikan,membantu dan melayani istri. Bersabar, mengapa ?
Mungkin sebagai suami anda sering mendengar cerita tentang wanita yang hamil muda. Sebagian dari mereka sering mengalami morning sicknes yaitu mual2 dan muntah2 di pagi hari. Tak jarang pada sore haripun wanita juga mengalami hal yang demikian. Bahkan ada yang lebih parah lagi mual dan muntah hampir sepanjang hari.
Meskipun anda sudah sering mendengar tentang berbagai cerita itu biasanya anda tetap akan kaget, saat istri anda mengalaminya.Anda mungkin tak hanya kaget,tetapi juga jengkel,karena beberapa hal atau rutinitas yang biasanya istri anda bisa lakukan, kini tidak bisa dilakukannya. Memasak dan membersihkan rumah misalnya mungkin harus tertunda saat istri anda sedang mengalami khas kehamilan. Tidak itu saja, saat anda ingin mengajaknya ‘berjima’ mungkin ia enggan baik karena kondisi tubuhnya yang kurang nyaman,atau kekhawatirannya terhadap keselamatan bayi yang ia kandung. Karena itulah,anda harus bersabar. Pahamilah kondisi istri, karena sesungguhnya ia sendiri pun tak ingin mengalami kondisi2 yang ganjil itu, tapi ia harus menjalani sebagai konsekuensi dari perjuangan menjadi seorang ibu.
Pahamilah perubahannya
Kasih sayang suami yang besar, dengan niat untuk memahami dan melayani istri ,sebagai bentuk tanggung jawab terhadap perjanjian bersama kepada Allah SWT (mistaqan ghalizha) akan banyak membantu suami menyesuaikan diri terhadap kehamilan istri. Suami juga juga perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan selera istri. Anda harus menyesuaikan selera istri dengan menghargai masakannya dan tidak mencela.
Sebagaimana dikatakan Trethowan dan Dickness (1972) wanita hamil sering mengalami dullet-taste (selera yang bodoh) selama hamil. Istri anda, mungkin jadi sangat suka masakan yang asin sekali,asam,atau citarasa lain yang tajam. Bisa pula ia jadi tidak suka pada makanan yang sebelumnya ia sukai. Terimalah kondisi istri dan bersikaplah bijak bila seleranya kurang sesuai dengan selera anda dan anak-anak. Berilah perhatian
Istri membutuhkan perhatian dari suami sebagai orang yang dicintainya. Ia juga butuh perasan dicintai oleh orang yang dicintainya,lebih-lebih ketika ia mengalami berbagai perubahan saat pertama kali ia hamil. Seorang suami perlu memberikan perhatian pada istrinya dengan tulus. Perhatian dan kasih saying selain memenuhi kebutuhan fisik dan psikis yang primer juga bisa diwujudkan dengan tindakan-tindakan kecil. Misalnya mengucapkan salam atau memberi kecupan. Perhatian suami yang tulus bisa menentramkan istri saat keinginannya mencari buah yang sedang tidak musim tidak terpenuhi. Melalui perhatian yang tulus,bersih, dan sungguh2 suami lebih mudah menyampaikan pengertian,ketika istri sedang ngidam. Berikan dorongan pada istri. Itu akan banyak memberi arti bagi istri dalam beradaptasi dengan kehamilannya. Suami juga harus bisa menjadi teman bicara dan pendengar yang baik, karena disaat hamil seperti itu istri butuh teman bicara yang mau mendengar tentang ungkapan perasaana, tentang dirinya,bayinya dan masa depan bersama. Sikap yang perlu anda tumbuhkan adalah empati terhadap kehamilan istri anda. Berusahalah untuk memahami apa yang dirasakan istri anda sebagaimana ia merasakannya. Istri mengharapkan agar anda mengerti bahwa hamil itu berat. Bahwa kecemasan menghinggapi dirinya dan tak mudah menghilangkannya dengan kata sabar. Genggamlah tanggannya saat ia berbicara dan dengarlah secara penuh apa saja keluhannya.

Membantu dan melayani istri
Hamil memberi beban berat pada istri. Perutnya membesar sehingga keseimbangan badan berubah dan sulit mencari posisi tidur yang nyaman. Ditambah lagi beban kerja ginjal yang meningkat, frekuensi kencing bertambah,mual-mual,sampai tegangan yang tidak mengenakkan pada farji dan perut. Semua beban itu dialami sendiri oleh istri. Padahal, bayi yang ada dalam kandungannya adalah anak anda berdua. Karena itu sudah sepatutnya sebagai suami anda berusaha meringankan beban istri. Meringankan beban istri, bisa dengan melakukan pekerjaan sehari-hari yang sederhana, mencuci pakaian atau menyapu halaman, misalnya, istri seringkali tidak menuntut suaminya untuk mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga. Ia lebih membutuhkan ketulusan dan kesungguhan anda dalam membantu meringankan bebannya. Selain itu anda juga bisa melayani istri misalnya dengan memijatnya saat ia sedang mual-mual atau menyediakan dan menemaninya makan siang ia sedang kehilangan selera makan. Yang terakhir, berterimakasihlah pada istri anda. Selama Sembilan bulan sepuluh hari hampir dapat dipastikan istri tetap berusaha melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, meskipun ia cukup terbebani dengan kehamilannya. Dengan semangat pengapdian, pengorbanan, kasih sayang dan cintanya, istri tidak menuntut apapun, kecuali perhatian dan kasih sayang anda. Karena itulah, sudah sepantasnya bila anda berterima kasih kepadanya,meski ia tidak memintanya. Anda bisa mengungkapkan terima kasih itu dalam berbagai bentuk, tetapi ungkapan dengan kata-kata jangan diabaikan. Istri akan merasakan kebahagian yang menyentuh bila anda bisa mengucapkan terima kasih dengan betul-betul tulus dan spontan.
Nah, itulah beberapa hal yang harus anda lakukan saat istri anda hamil. Jangan sampai kehamilan istri justru membuat anda sering uring-uringan, sehingga menambah beban istri. Ingat jika istri anda stress dan terlalu banyak beban pikiran, itu juga bisa berpengaruh buruk terhadap bayi yang ia kandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar